BAHAN AJAR MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) MELALUI STRATEGI HEURISTIK VEE UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA
SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)
diajukan untuk
memenuhi tugas Mata Kuliah Seminar Pendidikan Matematika
Oleh
Ngadiyono
NIM 1204829
DEPARTEMEN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS
PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2015
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Ki
Hajar Dewantara (dalam Rohimin dkk, 2011) mengatakan bahwa pendidikan adalah
upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat
memajukan kesempurnaan hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan
lingkungannya. Hal ini sesuai dengan hakikat pendidikan sesungguhnya menurut
UNESCO (1996), bahwa pendidikan seyogyanya bertumpu pada empat pilar, yaitu:
(1) Learning to know, (2) Learning to do, (3) Learning to live together and with other, dan (4) Learning to be.
Dalam Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP), salah satu tujuan mata pelajaran matematika adalah
agar peserta didik memiliki kemampuan memahami konsep matematika, menjelaskan
keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara
luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah (Depdiknas, 2008,
hlm. 8).
Pemahaman konsep sangat diperlukan oleh siswa, karena jika siswa belum
memahami suatu konsep maka mereka akan kesulitan dalam menyelesaikan
soal-soal yang berhubungan dengan konsep
lain yang telah
mereka pelajari. Selama ini
siswa cenderung menghafal
konsep-konsep matematika tanpa
memahami maksud dari konsep tersebut. Akibatnya
apabila mereka lupa
dengan suatu konsep,
maka mereka tidak dapat
menyelesaikan permasalahan yang diberikan guru. Hal ini sejalan dengan pendapat Turmudi (Tim MKPBM, 2003) bahwa
pemahaman konsep dalam pembelajaran matematika merupakan komponen yang esensial
dari pengetahuan yang diperlukan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan.
Agar siswa dapat
memahami konsep matematika
diperlukan berbagai inovasi dalam pembelajaran salah satunya dengan menggunakan
model Problem Based Learning (PBL)
yang melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. PBL merupakan suatu model pembelajaran yang
diawali dengan menghadapkan siswa pada masalah matematika. Dengan segenap
pengetahuan dan kemampuan yang dimilikinya, siswa dituntut untuk menyelesaikan
masalah yang kaya dengan konsep-konsep matematika (Herman, 2007, hlm. 48).
Penerapan model
PBL dalam pembelajaran
diharapkan dapat mendorong peserta
didik mempunyai inisiatif
untuk belajar secara
mandiri. Pengalaman ini sangat
diperlukan dalam kehidupan
sehari-hari dimana
berkembangnya pola pikir
dan pola kerja
seseorang tergantung pada
bagaimana dia membelajarkan
dirinya.
Berdasarkan uraian di
atas maka penulis
menyusun sebuah makalah
yang berjudul “Bahan Ajar Model Problem Based Learning (PBL) Melalui Strategi Heuristik Vee untuk
Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa Sekolah Menengah
Pertama”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang yang telah dikemukakan, maka masalah dalam makalah ini dirumuskan sebagai berikut:
1.
Bagaimana model Problem Based Learning (PBL) dalam
pembelajaran matematika?
2.
Bagaimana kemampuan pemahaman konsep matematis?
C. Batasan Masalah
Bahan kajian dalam makalah ini dibatasi dengan
pengembangan bahan ajar model Problem Based
Learning (PBL) untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematis
siswa dalam materi Segiempat untuk siswa kelas VII SMP.
D. Tujuan Penkajian Materi
Penulisan
makalah ini bertujuan untuk:
1.
Mengetahui model Problem Based Learning
(PBL) dalam pembelajaran
matematika.
2.
Mengetahui instrumen kemampuan pemahaman konsep matematis.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Hakekat Matematika
Matematika adalah disiplin ilmu tentang cara berpikir dan mengolah
logika, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Pada matematika diletakkan
dasar bagaimana mengembangkan cara berpikir dan bertindak melalui aturan yang
disebut dalil (dapat dibuktikan) dan aksioma (tanpa pembuktian). Selanjutnya dasar
tersebut dianut dan digunakan oleh bidang studi atau ilmu lain (Tim MKPBM,
2003).
Menurut
Darhim (2004) matematika merupakan
ilmu deduktif, formal, abstrak, dan ratunya ilmu. Matematika juga dapat dipandang
sebagai ilmu yang strukturnya
dibangun dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan, definisi, aksioma atau
postulat atau anggapan dasar, dalil atau teorema atau sifat, dan
teori.
B. Pembelajaran Matematika
Menurut
Sumarmo (2007) pembelajaran merupakan suatu proses, situasi, dan upaya yang
dirancang guru sedemikian rupa sehingga membuat siswa belajar. Dengan demikian
maka tugas seorang guru dalam proses pembelajaran adalah berperan sebagai
fasilitator, motivator, dan manajer belajar bagi siswa.
Sejalan
dengan pendapat Sumarmo, Suherman (2012) mengatakan bahwa pembelajaran pada
hakikatnya adalah kegiatan guru dalam membelajarkan siswa, ini berarti bahwa
proses pembelajaran adalah membuat atau menjadikan siswa dalam kondisi belajar.
C. Pemahaman Konsep Matematis
Pemahaman merupakan salah satu acuan untuk mengukur keberhasilan dalam proses pembelajaran matematika. Dalam pembelajaran matematika pemahaman
konsep merupakan kompetensi pertama yang harus dimiliki siswa. Dengan memahami konsep, siswa
akan mampu menggunakan
dan menerapkan apa
yang telah mereka pelajari untuk
menyelesaikan permasalahan matematika maupun permasalahan dalam
kehidupan sehari-hari.
Terdapat beberapa jenis pemahaman konsep matematis menurut para ahli, diantaranya adalah:
1.
Pemahaman konsep matematis menurut Skemp (dalam Sumarmo, 2007) terbagi
menjadi dua jenis, yaitu:
a.
Pemahaman instrumental, yaitu hafal konsep secara
terpisah atau dapat menetapkan sesuatu pada perhitungan rutin/sederhana,
mengerjakan sesuatu secara algoritmik saja. Yaitu siswa dapat menyelesaikan soal sederhana yang tipe soalnya
mirip dengan contoh yang diberikan guru.
b.
Pemahaman relasional, yaitu dapat mengaitkan satu
konsep/prinsip dengan konsep/prinsip lain secara benar. Contoh siswa dapat
menyelesaikan soal yang
berkaitan dengan kehidupan sehari-hari
dengan mengetahui unsur-unsur yang diketahui dan yang
ditanyakan, kemudian paham rumus apa yang digunakan dalam penyelesaiannya.
2.
Menurut Polya (dalam Sumarmo, 2007) pemahaman konsep matematis terbagi menjadi
empat tingkatan yaitu:
a.
Pemahaman mekanikal, yaitu siswa dapat mengingat dan
menerapkan sesuatu secara rutin dalam perhitungan sederhana. Contoh siswa
mengingat rumus suatu konsep dan menerapkannya dalam soal sederhana.
b.
Pemahaman induktif, yaitu dapat mencobakan sesuatu
dalam kasus sederhana dan tahu bahwa sesuatu itu berlaku dalam kasus serupa.
Contoh siswa mencoba mengerjakan soal
matematika sederhana kemudian dapat mengerjakan soal cerita
sederhana yang menggunakan rumus sama dengan rumus untuk soal sebelumnya.
c.
Pemahaman rasional, yaitu dapat membuktikan kebenaran
sesuatu. Contoh siswa dapat membuktikan teorema dan rumus matematika.
d.
Pemahaman intuitif,
yaitu dapat memperkirakan kebenaran sesuatu tanpa ragu-ragu, sebelum
menganalisis secara analitik. Contoh siswa dapat menyelesaikan tebak soal yang
diberikan guru secara yakin, cepat dan benar.
Menurut Depdiknas (2008)
indikator pemahaman konsep matematis siswa meliputi:
1.
Menyatakan ulang sebuah konsep, yaitu kemampuan siswa
untuk mengungkapkan kembali ide atau konsep yang telah dipelajari.
2.
Mengklasifikasi objek menurut sifat-sifat tertentu
sesuai dengan konsepnya, yaitu kemampuan siswa untuk mengelompokkan objek/benda menurut
sifat-sifatnya.
3.
Memberi contoh dan bukan contoh dari konsep, yaitu
kemampuan siswa untuk dapat
membuat contoh dan bukan contoh dari materi yang dipelajari.
4.
Menyajikan
konsep dalam berbagai
bentuk representasi matematis,
yaitu kemampuan siswa membuat
grafik/tabel/diagram,
menyusun cerita atau teks tulis, dan mengekspresikan matematika
dari data/konsep yang
ada.
5.
Mengembangkan
syarat perlu atau syarat
cukup dari suatu
konsep, yaitu kemampuan siswa
mengkaji mana syarat
perlu dan syarat
cukup suatu konsep yang terkait.
6.
Menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur atau
operasi tertentu, yaitu kemampuan
siswa dalam menyelesaikan soal sesuai dengan prosedur.
7.
Mengaplikasikan
konsep atau algoritma ke
pemecahan masalah, yaitu kemampuan
siswa menggunakan konsep dalam menyelesaikan masalah.
D. Problem Based Learning (PBL)
1.
Pengertian Problem Based Learning (PBL)
Problem Based Learning (PBL) atau pembelajaran berbasis masalah merupakan
salah satu model pembelajaran yang
dapat menjadikan siswa aktif,
mandiri, dan menyenangkan
serta mampu membentuk kerja sama yang baik antara guru dengen siswa serta siswa
dengan siswa yang lainnya dalam menemukan dan memahami konsep tersebut.
Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah model pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga
merangsang siswa untuk
belajar. Dalam kelas
yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah, siswa bekerja dalam kelompok untuk memecahkan masalah dunia nyata (Wijaya, 2014, hlm. 2).
I wayan Dasna (dalam Adawiyah, 2011) mengatakan
bahwa Problem Based Learning
(PBL) merupakan pelaksanaan
pembelajaran yang berangkat
dari sebuah kasus tertentu dan kemudian dianalisis lebih lanjut guna untuk
ditemukan masalahnya, dan merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi
belajar aktif kepada siswa.
Hal tersebut sejalan
dengan pendapat Stepien (dalam Hillman, 2003) yang mengatakan;
“PBL
constitutes a problem to be solved. There are many differences between an ill
structured and a well-structured problem. Instruction about problem solving in
the classroom is a process whereby student are presented with a problem and it
is solved by the end of the lesson.”
Herman
(2007) mengatakan bahwa Problem
Based Learning (PBL)
merupakan suatu model pembelajaran yang diawali dengan mengahadapkan siswa
dengan masalah matematika. Dengan segenap pengetahuan dan kemampuan yang
dimilikinya, siswa dituntut untuk menyelesaikan masalah yang kaya dengan
konsep-konsep matematika.
2. Ciri-Ciri dan Karakteristik Pembelajaran
Problem Based Learning (PBL)
Nurhayati (dalam Adawiyah, 2011, hlm. 9) mengatakan bahwa
pelaksanaan model pembelajaran
PBL memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.
Mengajukan pertanyaan atau masalah.
b.
Berfokus pada keterkaitan antar disiplin.
c.
Penyelidikan auntentik.
d.
Menghasilkan produk atau karya dan memamerkannya.
e.
Kerja sama.
Menurut Herman (2007), Problem Based learning (PBL) memiliki
karakteristik sebagai berikut:
a. Memposisikan siswa sebagai self-directed problem solver melalui
kegiatan kolaboratif.
b. Mendorong siswa untuk mampu
menemukan masalah dan mengolaborasikannya dengan mengajukan dugaan-dugaan dan
merencanakan penyelesaian.
c. Memfasilitasi siswa untuk
mengeksplorasi berbagai alternatif penyelesaian dan implikasinya, serta
mengumpulkan dan mendistribusikan informasi.
d. Melatih siswa untuk terampil
menyajikan temuan.
e. Membiasakan siswa untuk merefleksi
tentang efektivitas cara berpikir mereka dalam menyelesaikan masalah.
Berdasarkan
uraian tersebut tampak jelas bahwa pembelajaran dengan model PBL
dimulai dari
masalah yang dapat
dimunculkan oleh guru atau siswa, kemudian siswa memperdalam pengetahuannya untuk memecahkan
masalah tersebut sehingga siswa terdorong untuk berperan aktif dalam belajar.
3. Tahap-Tahap Problem Based Learning (PBL)
Menurut Wijaya (2014), pelaksanaan model pembelajaran
berdasarkan masalah meliputi lima
tahapan, yaitu:
a.
Orientasi siswa terhadap masalah auntentik.
Pada tahap ini
guru menjelaskan tujuan
pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, dan
memotivasi siswa terlibat aktif dalam pemecahan masalah yang dipilih.
b.
Mengorganisasikan siswa.
Pada tahap ini guru membagi siswa ke dalam kelompok, membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan
tugas belajar yang berhubungan dengan masalah.
c.
Membimbing penyelidikan individu dan kelompok.
Pada tahap ini
guru mendorong siswa
untuk mengumpulkan informasi yang
sesuai, melaksanakan eksperimen dan penyelidikan untuk mendapatkan penjelasan
dan pemecahan masalah.
d.
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya.
Pada tahap
ini guru membantu siswa dalam
merencanakan dan menyiapkan karya
yang sesuai seperti laporan,
model dan berbagi tugas dengan teman.
e.
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan
masalah.
Pada tahap ini guru
membantu siswa untuk
melakukan refleksi atau evaluasi
terhadap penyelidikan mereka dan proses yang mereka gunakan.
DAFTAR PUSTAKA
Adawiyah, R. (2011). Penerapan Model Pembelajaran
Problem Based Learning (PBL) untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa. Skripsi Jurusan Pendidikan
Matematika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tidak diterbitkan.
Afamasaga-Fuata'i, K. (2007). Vee Diagram as a Problem Solving Tool: Promoting
Critical Thinking and Synthesis of Concepts and Aplications in Mathematics. London: University of New England.
Afamasaga-Fuata'i, K. (2008). Student’s Conceptual
Understanding and Critical Thinking: A Case for Concept Maps and Vee-Diagrams
in Mathematics Problem Solving. London: University of New England.
Avianutia,
Viera. (2014). Pembelajaran Menggunakan
Strategi Heuristik Vee untuk Meningkatkan Kemampuan Representasi Matematik
Siswa. Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta. Tidak diterbitkan.
Calais,
Gerald J. (2009). The Vee Diagram as a Problem Solving Strategi: Content Area
Reading/Writing Implication. National Forum Teacher Educational Journal, Volume 19, Number 3.
Dahar,
Prof. Dr. Ratna Wilis, M.Sc. (2011). Teori-teori Belajar dan Pembelajaran.
Bandung: Erlangga.
Darhim. (2004). Permainan Matematika Sebagai
Letihan untuk Menumbuhkan Minat Terhadap Matematika. Bandung: FPMIPA UPI.
Depdiknas.
(2008). Analisis SI dan SKL Mata Pelajaran Matematika SMP/MTs untuk
Optimalisasi Tujuan Mata Pelajaran Matematika. Yogyakarta: Depdiknas.
Gowin,
D.B. dan Marino C. Alvares. (2005).Student’s
Conceptual Understanding and Critical Thinking: A Case for Concept Maps and
Vee-Diagrams in Mathematics Problem Solving. London: University of New
England.
Herman,
Tatang. (2007). Pembelajaran Berbasis
Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Matematis Tingkat Tinggi Siswa
Sekolah Menengah Pertama. Bandung: UPI Educationist.
Hernawan,
Asep H. dkk. (2010). Pengembangan
Bahan Ajar. [Online]. Diakses dari https://www.scribd.com/mobile/doc/252895668
Hillman,
W. (2003). Learning How to Learn: Problem Based Learning. Australian
Journal of Teacher Education, 28(2). [Online]. Diakses dari http://dx.doi.org/10.14221/ajte.2003v28n2.1
Lestari, Ika (2013). Pengembangan Bahan Ajar Berbasis
Kompetensi: Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Padang: Akademia.
Moise,
Edwin E. (1990). Elementary Geometry from an Advanced Standpoint. New York: Addison-Wesley
Publishing Company.
Novak,
Joseph D. (1984). Helping Student Learn How to Learn: A View from a Teacher-Researcher. New York: Cornell University
Press.
Novak,
Joseph D. dan D. Bob Gowin. (2006).
Learning How to Learn. London: Cambridge University Press.
Nuharini,
Dewi dan Tri Wahyuni. (2008). Matematika
Konsep dan Aplikasinya. Jakarta: Depdiknas.
Nuroniah,
Siti. (2014). Desain Didaktis Konsep
Luas Daerah Segitiga dan Segiempat pada Pembelajaran Matematika di Sekolah
Menengah Pertama Berdasarkan Learning Obstacle dan Learning Trajectory. Skripsi
Departemen
Pendidikan Matematika FPMIPA UPI Bandung. Tidak diterbitkan.
Nurrahmi, Hanifah. (2014). Desain Didaktis Sifat-sifat Segiempat
pada Pembelajaran Matematika di Sekolah Menengah Pertama Berdasarkan
Learning Obstacle dan Learning Trajectory. Skripsi Departemen Pendidikan
Matematika FPMIPA UPI Bandung. Tidak diterbitkan.
Pratiwi,
Indah R. (2014). Penerapan Strategi
Pembelajaran Metakognitif untuk Meningkatkan Kemampuan Heuristik dalam
Permasalahan Matematis dan Self-efficacy Matematis Siswa SMP. Tesis SPS
UPI Bandung. Tidak diterbitkan.
Purtadi,
Sukisman dan Lis Permana Sari. (2004). Metode
Belajar Berbasis Masalah (Problem Based Learning) Berbantuan Diagram V (Ve)
dalam Pembelajaran Kimia. [Online]. Diakses dari http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Sukisman_Purtadi_M.Pd./PBL_Diagram_Vee.pdf
Rohimin,
dkk. (2011). Hakikat Pendidikan.
Bandung: Program Pendidikan Umum SPS UPI.
Russeffendi.
(2005). Dasar-dasar Pendidikan Modern
dan Komputer untuk Guru. Bandung: Tarsito.
Suherman,
Erman. (2012). Belajar dan
Pembelajaran Matematika. Bandung: FPMIPA UPI.
Sumarmo,
Utari. (2007). Rujukan Filsafat, Teori,
dan praktis Ilmu Pendidikan. Bandung: UPI Press.
Sundari, Desita P. (2011). Pembelajaran Matematika dengan Menggunakan Strategi Heuristik Vee
dalam Upaya Meningkatkan Kemampuan Penalaran Induktif Siswa SMP. Skripsi
Departemen
Pendidikan Matematika FPMIPA UPI Bandung. Tidak diterbitkan.
Suyitno,
Imam. (2011). Memahami Tindakan
Pembelajaran: Cara Mudah dalam Perencanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Bandung: Refika Aditama.
Tim
MKPBM. (2003). Strategi Pembelajaran
Matematika Kontemporer. Bandung: JICA UPI.
UNESCO.
(1996). Treasure Within: Report to
UNESCO the International Commission on Education for the Twenty-First
Century. Paris: UNESCO Publishing.
Wagiyo,
A. dkk. (2008). Pegangan Belajar
Matematika. Jakarta: Depdiknas.

0 komentar:
Posting Komentar